Entri Populer

Minggu, 13 November 2011

ASFIKSIA


2.1.      Konsep Teori Asfiksia
2.1.1.   Pengertian
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan Co2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 1998 : 319)
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. (Sarwono, 2002: 709).

2.1.2.   Etiologi
2.1.2.1.   Faktor Ibu
·         Pre - eklamasi dan eklampsia
·         Pendarahan abnormal (plasenta previa & soksio plasenta)
·         Partus lama dan partus macet
·         Demam selama persalinan
·         Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC & HIV)
·         Kehamilan lewat waktu (> 42 minggu kehamilan)
2.1.2.2.   Faktor Tali Pusat
·         Lilitan tali pusat
·         Tali pusat pendek
·         Simpul tali pusat
·         Prolaps tali pusat
2.1.2.3.   Faktor Bayi
·         Bayi prematur (< 37 minggu)
·         Persalinan dengan tindakan (rangsang, bayi kembar, distonsia bayi, ekstrasi vakum, forsep)
·         Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
(Depkes, 2007: 108)
2.1.3.   Diagnosa
2.1.3.1.   DJJ
·                     Meningkat 160 X/menit _ tingkat permulaan
·                     Jumlah sama dengan normal tetapi tidak teratur
·                     Jumlah penurunan dibawah 100 X/menit dan disertai tidak teratur
2.1.3.2.   Mekonium Dalam Air Ketuban
Pengeluaran mekonium dalam letak kepala menunjukan gawat janin. Karena terjadi perangsangan nervus X, sehingga peristaltik usus meningkat dan spinter ani terbuka.

2.1.4.   Klasifikasi
2.1.4.1    Asfiksia berat (nilai apgar 0 – 3)
Memerlukan resusitasi segera secara aktif, pembarian O2 terkendali. Karena selalu disertai asidosis, maka perlu diberikan Natrikus Biokarbonat 7,5% dengan dosis 2,4 ml/kg berat badan dan cairan glukosa 40% 1-2 ml/kg berat badan, diberikan via vena umbilikalis.
2.1.4.2.   Asfiksia ringan sedang (nilai apgar 4 - 6).
Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai dapat bernapas normal kembali.
2.1.4.3.   Bayi normal atau sedikit asfiksia (nilai apgar 7 - 9).
2.1.4.4.   Bayi normal dengan nilai apgar 10.
(Mochtar, Rustam, 1998: 428).
2.1.5.   Patogenesi
2.1.5.1.   Bila janin kekurangan O2 dan kadar Co2 bertamba, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga bunyi jantung janin menjadi lambat. Bila kekurangan O2 ini terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari N. simpatikus. DJJ menjadi lebih cepat akhirnya irreguler dan menghilang.
2.1.5.2.   KekuranganO2  juga merangsang usus, sehingga mekonium keluar sebagai tanda janin dalam asfiksia.
2.1.5.3.   Janin akan mengadakan pernapasan intra uteri, dan bila kita periksa kemudian, terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru bronkus tersumbat dan terjadi atelektaksis, bila janin lahir alveoli tidak berkembang.
(Sarwono, 2002: 320).
2.1.6.   Penanganan
2.1.6.1.   Penanganan Umum
a.             Jangan biarkan bayi kedinginan, bersihkan mulut dan jalan napas.
b.            Lakukan resusitusi BBL.
c.             Gejalah pendarahan otak biasanya timbul pada beberapa hari post partum, jadi kepala dapat direndahkan, supaya lendir yang menyumbat pernafasan dapat keluar.
d.            Kalau diduga pendarahan otak berikan vit. K 1 – 2 hari.
e.             Berikan tranfusi dara via tali pusat atau glukosa.
(Mochtar, Rustam, 1999: 428)
2.1.6.2.   Penanganan Awal
a.             Jaga Bayi Tetap Hangat
·         Letakan bayi di atas kain yang ada di atas perut ibu atau dekat perineum.
·         Selimuti bayi dengan kain tersebut, potong tali pusat.
·         Pindahkan bayi keatas kain ketempat resusitasi.
b.            Atur Posisi Bayi
·         Baringakan bayi terlentang dengan kepala didekat penolong.
·         Ganjal bahu agar kepala sedikit ekstensi.
c.      Isap Lendir
Gunakan alat pengisap lendir De lee atau bola karet
·         Pertama, isap lendir didalam mulut, kemudian baru isap lendir di hidung
·         Hisap lendir sambil menarik keluar pengisap (bukan pada saat memasukkan).
·         Bila menggunakan pengisap lendir De lee, jangan memasukkan ujung pengisap terlalu dalam (lebih dari 5 cm kedalam mulut atau lebih dari 3 cm kedalam hidung) karena dapat menyebabkan denyut jantung bayi melambat atau bayi berhenti bernapas.
d.      Keringkan dan Rangsang Bayi
·         Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainya dengan sedikit tekanan. Rangsangan ini dapat memulia pernapasan bayi atau bernapas lebih baik.
·         Lakukan rangsangan taktis dengan beberapa cara dibawah ini:
Ø   Menepuk atau menyentil telapak kaki.
Ø   Menggosok punggung, perut, dada atau tungkai bayi dengan telapak tangan.
e.      Atur Kembali Posisi dan Selimuti Bayi
·         Ganti kain yang telah basah dengan kain bersih dan kering yang baru (disiapkan)
·         Selimuti bayi dengan kain tersebut, jangan tutupi bagian muka dan dada agar pemantauan pernapasan bayi dapat diteruskan.
·         Atur kembali posisi terbaik kepala bayi (ekstensi)
f.       Lakukan Penilaian Bayi
·         Lakukan penilaian apakah bayi bermapas normal, megap-megap atau tidak bernapas.
(Depkes, 2007: 113)
2.1.6.3.   Penanganan Lanjut Yaitu Vertilasi
a.             Pasang sungkup, perhatikan lekatan
b.            Ventilasi 2 kali dengan tekanan 30 cm air, amati besaran dada bayi.
c.             Bila dada bayi mengembang, lakukan ventilasi 20 kali dengan tekanan 20 cm air dalam 30 detik
d.            Penilaian apakah bayi menangis atau bernapas spontan dan teratur?
(Depkes, 2007: 117)
2.1.7.   Asuhan Pascaresusitasi
Asuhan pasca resusitasi diberikan sesuai dengan keadaan bayi setelah menerima tindakan resusitasi. Asuhan pasca resusitasi dilakukan paa keadaan:
2.1.7.1.   Resusiasi berhasil.
Bayi menangis dan bernapas normal sesudah langkah awal atau sesudah ventilasi.Perlu pemantauan dan dukungan.
2.1.7.2.   Resusitasi tida /kurang berhasil.
Bayi perlu rujukan yaitu sesudah ventilasi 2 menit belum bernapasatau bayi sudah bernapas tetapi masih megap-megap atau pada pemantauan ternyata kondisinyamakin memburuk.
2.1.7.3.   Resusitasi gagal.
Setelah 20 menit diventilasi, bayi gagal bernapas.
(Depkes, 2007: 118)
2.1.8.   Prognosis
Asfiksia livida lebih baik dari palida. Prognosis tergantung pada kekurangan O2 dan luasnya perdarahan dalam otak. Bayi yang dalam keadaan asfiksia dan pulih kembali harus dipikirkan kemungkinanya menderita cacat mental seperti epilepsi dan bodoh pada masa mendatang.
(Mochtar, Rustam, 1998: 429)
           
2.1.9.   Gejala dan Tanda Asfiksia.
2.1.9.1    Tidak bernapas atau bernapas megap-megap.
2.1.9.2.   Warna kulit kebiruan.
2.1.9.3.  Kejang. 
2.1.9.4.   Penurunan kesadaran.
(Depkes, 2007: 109)
2.1.10. Komplikasi.
2.1.10.1. Cacat mental
2.1.10.2. Pneumonia dan mugkin kematian.




DAFTAR PUSTAKA
Depkes. 2007. Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal Revisi 2007. Jakarta. JNPK – KR.
Depkes. 2005. Manajemen Asfiksia Bayi Baru Lahir. Jakarta.
Mansjoer, Arief. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III. Jilid I. FKUI: Media Aesculapius.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Wiknojasastro, Hanifa dkk. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta. YBPSP.